SambalHitam
LIFE

Things I Stopped Buying To Save More Money

Medium Editorial
18 May 2026 · 8 min read
Things I Stopped Buying to Save More Money – Kisah Sehari‑hari yang Menginspirasi

Things I Stopped Buying to Save More Money

Setelah tiga tahun menabung sambil masih tetap “hidup”, saya akhirnya menemukan daftar barang yang ternyata bukan kebutuhan mutlak. Berikut cerita perjalanan saya, lewat contoh‑contoh sederhana yang bisa Anda tiru tanpa harus mengorbankan kebahagiaan.

Ilustrasi seseorang menolak keranjang belanja penuh dengan uang di tasnya, menandakan penghematan
Gambar AI: Menolak godaan belanja demi menambah tabungan.

1. Kopi Susu Beli di Kedai (Morning Ritual)

Memang, aroma kopi susu yang sedap memang menggoda. Namun, ketika saya menghitung Rp25.000 × 30 hari = Rp750.000 dalam sebulan, rasanya tak lagi seimbang. Saya mengganti kebiasaan ini dengan brew‑your-own di rumah. Hasilnya? Selisih yang saya alokasikan ke tabungan investasi mencapai 50% lebih cepat.

2. Gadget Accessory yang “Wajib” (Earphone, Powerbank, & Case)

Setiap kali ada promo “diskon 50%”, saya selalu menangkapnya. Kebiasaan ini menambah beban di kantong tanpa memberi nilai tambah yang signifikan. Sekarang, saya menunggu kebutuhan sejati: penggantian yang rusak, bukan sekadar “trend”. Hasilnya, pengeluaran gadget turun sekitar 30% dalam setahun.

3. Layanan Streaming Premium Ganda

Kami memiliki dua layanan streaming: satu untuk film, satu lagi untuk musik. Ternyata, sebagian besar konten musik bisa dipenuhi lewat Spotify Free dengan iklan. Saya menurunkan biaya berlangganan dari Rp150.000 menjadi Rp70.000 per bulan. Lebih hemat dan tetap terhibur.

4. Makanan Take‑away Saat Lembur

Setiap kali deadline menghantui, saya biasanya memesan nasi box lewat aplikasi. Di akhir bulan, tagihan mencapai Rp1.2 juta. Solusinya? Menyiapkan meal prep sederhana pada hari Sabtu. Tidak hanya mengurangi biaya, tetapi juga lebih sehat.

5. Fashion “Fast‑Fashion” Impulsif

Berburu diskon di mall setiap akhir pekan menjadi kebiasaan. Padahal, sebagian besar pakaian hanya dipakai sekali. Saya beralih ke second‑hand dan “wardrobe capsule”. Selisihnya? Lebih dari Rp2 juta dalam setahun yang kini masuk ke tabungan darurat.

6. Pembelian Gadget Sekali Pakai (e‑cigarette, charger sekali pakai)

Barang-barang ini terasa “pake sekali, buang”. Dengan menilai siklus hidupnya, saya beralih ke reusable atau tidak membeli sama sekali. Penghematan tidak besar secara per unit, tapi akumulatif selama 3‑5 tahun menjadi signifikan.

Bagaimana Saya Mengatasi Godaan?

Setiap kali ada notifikasi diskon, saya menulis “Apakah saya benar‑benar butuh ini?” di note app. Jika jawaban “tidak” muncul dalam 24 jam, saya mengabaikannya. Teknik “wait‑list” ini berhasil menurunkan impulse buying hingga 70%.

Keuntungan Nyata yang Saya Rasakan

  • Tabungan darurat naik dari Rp5 juta menjadi Rp12 juta dalam 8 bulan.
  • Rasio pengeluaran vs. pemasukan berbalik positif, memungkinkan investasi reksadana rutin.
  • Lebih banyak waktu untuk hobi, karena tidak terikat pada “shopping hunt”.

FAQ – Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah berhenti beli kopi susu tiap hari benar‑benar menghemat?
Ya, jika Anda beli kopi susu seharga Rp25.000 tiap hari, itu berarti sekitar Rp750.000 per bulan yang bisa dialokasikan ke tabungan atau investasi.
Bagaimana cara mengatasi godaan jualan flash di media sosial?
Simpan link produk ke dalam “Read‑Later” list, beri jeda 24 jam, dan evaluasi apakah barang itu memang dibutuhkan atau hanya impulsif.
Apakah berlangganan streaming layanan premium penting?
Tidak wajib. Coba beralih ke paket gratis atau bagi akun dengan teman/keluarga untuk menurunkan biaya perorang.
Bagaimana cara mengurangi pengeluaran transportasi tanpa mengorbankan mobilitas?
Gunakan transportasi umum di hari kerja, manfaatkan aplikasi berbagi sepeda, atau carpool dengan rekan kerja. Ini dapat mengurangi biaya bensin hingga 30‑40%.

Kesimpulan

Menentukan apa yang boleh dibeli dan apa yang harus dihindari bukan soal menjadi kikir, melainkan tentang menata prioritas. Dengan menyingkirkan barang‑barang yang hanya memberi kepuasan sesaat, saya membuka ruang bagi kebebasan finansial yang lebih panjang. Mulailah dari satu atau dua hal, rasakan perubahannya, dan perlahan perluas. Ingat, setiap rupiah yang Anda simpan adalah tiket menuju impian yang lebih besar.

© 2026 FinStory Media. All rights reserved.

Jika Anda menemukan artikel ini bermanfaat, bagikan ke media sosial atau daftar newsletter kami untuk tips keuangan terbaru.