SambalHitam
NEWS

Why Most People Struggle To Save Money

Medium Editorial
18 May 2026 ˇ 8 min read
Mengapa Sebagian Besar Orang Kesulitan Menyimpan Uang? – Insight Finansial Hari Ini

Mengapa Sebagian Besar Orang Kesulitan Menyimpan Uang?

Jika Anda pernah menutup dompet dengan perasaan “masih ada uang, tapi tidak cukup untuk ditabung”, Anda tidak sendirian. Mari kita selami penyebabnya, lewat kisah nyata dan data yang mudah dicerna.

Oleh Rizky Hartono | 17 Mei 2026

Hook: Cerita dari Sudut Kafe

Suatu sore, saya duduk di kafe corner kota Jakarta, menyesap espresso sambil menatap layar laptop yang menampilkan notifikasi “Pengeluaran Harian: Rp 1.200.000”. Saya baru saja selesai menghabiskan uang untuk streaming, makan siang, dan e‑gift untuk teman. Di balik semua itu, rekening tabungan saya masih kosong. Rasanya seperti menonton film yang terus menegangkan—setiap adegan menambah rasa cemas, tapi tak ada solusi yang muncul.

Itu bukan sekadar cerita pribadi. Lebih dari 60 % orang dewasa di Indonesia mengaku tidak mampu menabung secara rutin, menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2025. Kenapa hal ini terjadi? Mari kita kupas satu per satu.

1. Mindset “Saya Bukan Orang Tabungan”

Kita cenderung mengkategorikan diri—“Saya suka hidup spontan”, “Saya tidak bisa menahan godaan diskon”. Begitu label itu tertanam, otak secara otomatis menolak rencana menabung. Ini bukan hanya soal motivasi semata; ada mekanisme psikologis yang disebut self‑fulfilling prophecy. Tanpa menyadarinya, kita menciptakan kebiasaan yang mengukuhkan keyakinan lama.

Solusinya? Ganti narasi. Mulailah dari kalimat kecil: “Saya mulai menabung, sekecil 5 % dari gaji”. Menulisnya di jurnal harian membantu otak menerima identitas baru.

2. Gaya Hidup Konsumtif di Era Digital

Setiap scroll di Instagram menampilkan “Life‑Style Goals”: liburan di Bali, sneakers limited edition, kuliner unik. Penelitian Harvard Business Review 2024 menemukan bahwa paparan visual berlebih meningkatkan kecenderungan impulsif hingga 30 %. Ketika otak melihat gambaran kemewahan, hormon dopamin terangsang—kita merasa “harus” ikut serta.

Langkah praktis: matikan notifikasi promo di aplikasi belanja, dan gunakan app blocker selama jam kerja. Dengan mengurangi paparan, dorongan impulsif pun berkurang.

3. Kurangnya Pengelolaan Anggaran yang Realistis

Seringkali, kita menyusun anggaran “ideal” tanpa menyesuaikan dengan kenyataan. Misalnya, menuliskan “makan di luar 3 kali seminggu” padahal kebiasaan sebenarnya 5 kali. Ketidaksesuaian ini menimbulkan defisit yang tak terdeteksi—dan tabungan pun tak terbangun.

Tips: gunakan aplikasi pencatatan otomatis (seperti Jenius atau Money Lover) yang mengkategorikan transaksi real‑time. Lihat pola pengeluaran selama satu bulan, kemudian sesuaikan anggaran berdasarkan data itu.

4. Pengaruh Lingkungan Sosial

Kelompok teman atau keluarga yang menganggap “menabung itu kaku” dapat memperkuat perilaku boros. Satu studi oleh Universitas Indonesia (2023) menemukan bahwa individu yang sering menghadiri acara nongkrong dengan biaya tinggi memiliki 25 % kemungkinan lebih kecil untuk memiliki dana darurat.

Solusi? Pilih teman yang mengerti pentingnya tujuan keuangan, atau buat tantangan menabung bersama—misalnya, “Setiap orang menabung Rp 50.000 tiap minggu, yang paling konsisten dapat hadiah mingguan”.

5. Ketidaktahuan tentang Produk Keuangan

Masih banyak orang yang belum mengenal rekening tabungan ber‑bunga tinggi, reksa dana syariah, atau fitur auto‑save di e‑wallet. Tanpa pengetahuan ini, “menabung” berarti menunggu gaji dan menaruh uang di bawah bantal.

Langkah sederhana: kunjungi website bank atau fintech terpercaya, pelajari perbandingan suku bunga, dan aktifkan fitur “Auto‑Transfer” dari gaji ke rekening tabungan pada hari pertama.

6. Penghasilan Tidak Stabil

Freelancer, pekerja lepas, atau pekerja kontrak sering kali mengalami fluktuasi pendapatan. Ketidakpastian ini membuat mereka ragu mencadangkan uang—“Bagaimana kalau minggu depan tidak ada uang?”.

Strateginya: alokasikan persentase “dasar” (mis. 5 %) dari setiap pemasukan, tidak peduli berapa banyak. Pada bulan dengan pendapatan tinggi, persentase dapat ditingkatkan menjadi 10‑15 %.

Sudut Pandang Pribadi: Apa yang Saya Lakukan Berbeda?

Setelah menulis semua ini, saya mencoba mengubah kebiasaan saya secara bertahap. Mulai dari mengatur alarm “Tabung Sekarang” di ponsel, hingga menutup akun belanja yang jarang terpakai. Hasilnya? Dalam tiga bulan, saldo tabungan saya naik dari nol menjadi Rp 3.5 juta. Tidak banyak, tapi cukup untuk menutupi biaya darurat jika tiba‑tiba mobil mogok.

Intinya, perubahan kecil yang konsisten lebih berdaya daripada resolusi besar yang tidak realistis. Seperti menanam pohon: butuh waktu untuk melihat akarnya tumbuh, tapi akhirnya buahnya akan terasa manis.

FAQ – Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mengapa pola pikir menilai diri sebagai "bukan orang yang suka menabung" menghambat tabungan?
Ketika seseorang menanamkan label tersebut, otaknya secara otomatis menolak ide menabung. Ini disebut self‑fulfilling prophecy, di mana keyakinan mengarahkan perilaku yang membuat keyakinan menjadi nyata.
Bagaimana pengaruh budaya konsumtif di media sosial menurunkan motivasi menabung?
Media sosial menampilkan gaya hidup mewah yang tampak mudah dicapai, sehingga menimbulkan perbandingan sosial. Karena takut ketinggalan, orang cenderung mengalokasikan uang untuk “keep up” daripada menabung.
Apakah pengelolaan anggaran otomatis dapat membantu orang yang selalu "lupa" menabung?
Ya. Dengan otomatisasi (misalnya, transfer otomatis ke rekening tabungan setelah gaji masuk) menghilangkan keputusan manual yang sering terlewat atau ditunda.
Bagaimana cara memulai menabung dengan penghasilan terbatas?
Mulailah dengan persentase kecil, misalnya 5 % dari setiap pemasukan, lalu naikkan secara bertahap. Kombinasikan dengan pencatatan pengeluaran harian untuk menemukan celah penghematan.
Apakah menabung di rekening yang terpisah dari rekening utama memberi efek psikologis positif?
Benar. Memisahkan dana tabungan menciptakan jarak mental, sehingga tidak tergoda menggunakannya untuk pengeluaran rutin.

Kesimpulan

Kesulitan menabung bukan semata‑mata tentang kurangnya uang, melainkan gabungan faktor psikologis, sosial, dan kebiasaan keuangan. Dengan mengenali akar permasalahannya—mulai dari mindset, pengaruh media, hingga ketidaktahuan produk keuangan—kita dapat menyiapkan strategi yang realistis dan berkelanjutan.

Jadi, ambil langkah kecil hari ini: catat satu pengeluaran yang bisa dikurangi, aktifkan transfer otomatis, atau baca satu artikel tentang investasi mikro. Setiap butir perubahan akan menumpuk menjadi tabungan yang lebih kuat di masa depan.

Ingat, menabung bukan tentang menahan diri, melainkan tentang memberi ruang bagi diri Anda untuk bermimpi lebih besar.

Untuk informasi lebih lengkap tentang tips menabung, kunjungi panduan praktis menabung tiap hari.

© 2026 FinTech Insight. Semua hak cipta dilindungi.